Kamis, 19 April 2018

Guru Kegagalan


Bisakah kita belajar dari kegagalan? Ditengah dunia yang mengagungkan kesuksesan, kita seakan-akan membuat kegagalan adalah sesuatu yang buruk dan benar-benar harus dihindari. Kegagalan dibuat menjadi momok yang menakutkan bagi semua orang yang bermimpi untuk sukses. Tapi benarkah kita lebih banyak belajar dari kegagalan daripada kesuksesan?

Menurut anda? Apakah anda langsung bisa belajar naik sepeda begitu mencobanya? Apakah anda langsung mahir menendang bola begitu diberikan kepada anda ketika kecil? Kita
banyak melupakan kondisi itu ketika mulai beranjak dewasa. Kita semakin dikejar waktu dan seakan-akan semua hal yang kita dapat harus bisa kita pelajari, kuasai dalam waktu singkat. Memang kita dituntut untuk bisa melakukan banyak hal dalam waktu sesingkat mungkin. Tetapi mengapa kita memaksakan diri harus bisa mahir dalam beberapa kali percobaan?

Adalah suatu keanehan bila kita membuat nilai kesuksesan begitu tinggi sementara kita hanya menerima kegagalan begitu rendah. Padahal di alam ini keadaan terbalik. Kesempurnaan diperoleh setelah kita melakukan kegagalan dalam jumlah yang besar. Jadi sebenarnya kita mengingkari alam. Tidak heran mengapa tekanan atau stress banyak terjadi di sekitar kita bila kondisi seperti demikian menjadi acuan.

Sampai sejauh mana kita bisa menerima kegagalan? Kapan kita harus menyerah? Sebenarnya hal ini tergantung kepada mental anda. Jika sudah terbiasa dengan cara instan maka anda akan cenderung cepat menyerah dan tidak mau mencoba lagi. Ada anggapan disekitar kita yang mengatakan bila anda
mencoba lagi maka anda akan membuang waktu berharga. Sebuah konsep yang aneh kalau kita hubungkan dengan solusi terbaik.

Disisi lain, otak kita adalah sebuah mesin berpikir yang sangat canggih. Dengan kemampuannya kita bisa melakukan
perbaikan terus menerus dan mencari solusi yang terbaik sekalipun keadaan terus berubah. Otak kita sebenarnya tidak mengenal arti kegagalan. Mental kita yang berhubungan dengan itu. Dan mental terbentuk sejak kecil. Emosi kita sudah terbentuk ketika kita dimarahi guru karena kesalahan yang kita perbuat. Pembentukan ini berpengaruh pada mental. Kita trauma dengan kesalahan dan kita menjauh darinya. Akibatnya kita tidak berani mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan lain dari satu masalah.

Jadi yang terjadi sebenarnya adalah, otak kita tetap tapi mental kita memblok semua proses berpikir. Sehingga otak kita menjadi terbiasa untuk berdiam diri. Ingatkah anda pada latihan latihan sebelumnya anda membuat banyak daftar dari berbagai kemungkinan. Ada yang aneh, lucu, tidak masuk akal, asal-asalan. Coba buka catatan anda, pasti anda menemukan hal seperti itu. Apakah itu adalah kesalahan? Apakah itu anda anggap kegagalan? Kalau anda berpandangan sempit maka bisa jadi anda berpikir demikian. Tapi semua itu adalah bagian proses yang terbangun dengan sendirinya. Seorang jenius sekalipun tidak langsung menemukan karya terbaiknya. Mereka melakukan banyak percobaan untuk mendapatkan karya yang bagus. Dan diantara karya yang bagus tadi akan ada karya terbaik yang akhirnya terkenal ke seluruh dunia.

Tahukah anda contoh ekstrim mengenai kegagalan? Thomas Alva Edison adalah orangnya. Sebelum dia menemukan bahan yang tepat untuk bola lampu listrik, dia mengalami kegagalan sebanyak lebih dari 10.000 kali. Dan yang terbesar adalah penemuan bahan aki listrik, dia harus mengalami kegagalan 50.000 kali. Jadi, setiap kali anda gagal ingatlah selalu
jumlah kegagalan Thomas Alva Edison. Jadikan hal itu menjadi motivasi bagi diri anda.

Apa yang dikatakan Thomas mengenai hal itu. Dia berkata, “ Saya tidak gagal, saya hanya menemukan banyak cara yang tidak berhasil dan pada akhirnya saya akan menemukan satu yang berhasil”. Sebuah sikap konsistensi dan ketahanan yang luar biasa bukan? Dan anda harus ingat dengan baik bahwa kegagalan adalah pemicu dari keberhasilan. Apapun pendapat sekeliling anda, sikap persisten terhadap usaha harus anda pertahankan.

Ada fakta yang menarik dari beberapa ribu ilmuwan yang diteliti dan diwawancarai ketika diadakan riset yang mencari hubungan faktor keberhasilan dan karya terbaik mereka. Ternyata ilmuwan yang menghasilkan karya terbaik memiliki rekor jumlah kegagalan terbanyak. Riset itu juga menemukan bahwa mereka juga menghasilkan karya-karya biasa. Dan hanya sedikit yang benar-benar monumental dan terkenal ke seluruh dunia. Jadi ada korelasi jumlah kegagalan yang dibuat dengan pemilihan karya terbaik. Lalu mengapa anda tidak melakukan banyak kegagalan untuk menemukan kesuksesan?

0 komentar:

Posting Komentar